Wednesday, October 10, 2012

Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)


Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) merupakan pembaharuan dalam pembelajaran matematika di Indonesia dengan menggunakan  prinsif-prinsif dalam Realistic Mathematics Education(RME) yang dikembangkan oleh instintut Freudental.

Pendekatan Matematika Realistik (PMR) adalah suatu pendekatan pem- belajaran matematika yang memiliki karakteristik: menggunakan masalah kontekstual, menggunakan model, menggunakan kontribusi siswa, terjadinya interaksi dalam proses pembelajaran, menggunakan berbagai teori belajar yang relevan, saling terkait, dan terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya.

Menurut De Lange, Pembelajaran matematika dengan pendekatan PMRI meliputi aspek-aspek berikut :

  1. Memulai pelajaran dengan mangajukan masalah (soal) yang “riil” bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalam pelajaran yang lebih bermakna. 
  2. Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang diingin dicapai dalam pelajaran tersebut. 
  3. Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan atau maslah yang diajukan. 
  4. Pengajaran berlangsung secar interaktif : siswa menjelaskan dan memberikan jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidak setujuan, mencari alternative penyelesaian yang lain, dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pelajaran. 


Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai
tujuan pendidikan matematika secara lebih baik daripada masa yang lalu. Dalam pandangan PMR, pengembangan suatu konsep matematika dimulai oleh siswa secara mandiri berupa kegiatan eksplorasi sehingga memberikan peluang pada siswa untuk berkreasi mengembangkan pemikirannya.

PMRI mempunyai konsepsi tentang siswa sebagai berikut :

  1. Siswa memiliki seperangkat konsep altrenatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya. 
  2. Siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan untuk dirinya sendiri. 
  3. Pembentukan pengetahuan merupakan proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi, penghalusan, penyusunan kembali dan penolakan 
  4. Pengetahuan baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman. 
  5. Setiap siswa tanpa memandang ras, budaya dan jenis kelamin mampu memahami dan mengerakan matematika.


PMRI merumuskan peran guru dalam pembelajaran antara lain :
1. Guru hanya sebagai fasilitator.
2. Guru harus mampu membangun pengajaran yang intraktif.
3. Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif menyambang pada proses belajar dirinya, dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan persoalan riil.
4. Guru tidak terpancang dengan materi yang termasuk dalam kurikulum, melainkan aktif mangaitkan kurikulum dengan dunia riil, baik fisik maupun sosial.

Menurut De Lange, pembelajaran matematika dengan pendekatan PMRI meliputi aspek-aspek berikut:

  1. Memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang “riil” bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya sehingga siswa segera terlibat dalam pembelajaran secara bermakna.
  2. Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut.
  3. Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terdapat persoalan/ masalah yang diajukan.
  4. Pengajaran berlangsung secara interaktif siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pelajaran.


Adapun langkah-langkah dalam pendekatan pembelajaran matematika realistik adalah :

  1. Memahami masalah kontekstual, yaitu guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut.
  2. Menjelaskan masalah kontekstual, yaitu jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan yang belum dipahami
  3. Menyelesaikan masalah kontekstual, yaitu siswa secara individual menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri. Cara pemecahan dan jawaban masalah berbeda lebih diutamakan. Dengan menggunakan lembar kerja, siswa mengerjakan soal. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri
  4. Membandingkan dan mendiskusikan jawaban, yaitu guru menyediakan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban masalah secara berkelompok. Siswa dilatih untuk mengeluarkan ide-ide yang mereka miliki dalam kaitannya dengan interaksi siswa dalam proses belajar untuk mengoptimalkan pembelajaran.
  5. Menyimpulkan, yaitu guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menarik kesimpulan tentang suatu konsep atau prosedur.


No comments:

Post a Comment