Showing posts with label Model Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Model Pembelajaran. Show all posts

Sunday, June 23, 2013

MODEL PEMBELAJARAN CONCEPT SENTENCE

Pembelajaran menjadi bermakna jika peserta didik terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai fasilitator agar pembelajaran menjadi bermakna, bukan sebagai penceramah bagi peserta didik. Nah, teman-teman sekarang saya akan membagikan salah satu model pembelajaran agar peserta didik termotivasi dalam mengikuti pembelajaran, sehingga pembelajaran akan lebih bermakna. Model Pembelajaran yang akan saya sajikan adalah Model Pembelajaran Concept Sentence. Untuk lebih jelasnya, silahkan teman-teman baca di bawah ini ya....

Model Pembelajaran Concept Sentence dilakukan dengan cara membentuk siswa dengan kelompok heterogen dan membuat kalimat dengan minimal 4 kata kunci sesuai materi yang disajikan. 

Prosedur Model Pembelajaran Concept Sentence adalah penyampaian kompetensi, sajian materi, membentuk kelompok heterogen, guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar, tiap kelompok membuat kalimat berdasarkan kata kunci, presentasi.


Langka-langkah / Sintaks Model Pembelajaran Concept Sentence, yaitu:

NO
LANGKAH
KEGIATAN
1
Pendahuluan
Salam
Doa
Absensi
Apersepsi
Tanya jawab
2
Kegiatan Inti
Penyampaian kompetensi
Sajian materi
Membentuk kelompok heterogen
Guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar
Tiap kelompok membuat kalimat berdasarkan kata kunci
Presentasi
3
Kegiatan Penutup
Kesimpulan
Penilaian
Motivasi dan nasihat

Kelebihan / Keunggulan Model Pembelajaran Concept Sentence yaitu:
1.      Siswa lebih memahami kata kunci dari materi pokok pelajaran.
2.      Siswa yang lebih pandai dapat mengajari siswa kurang pandai.

Kelemahan / Kekurangan Model Pembelajaran Concept Sentence yaitu:
1.      Model ini hanya dapat digunakan untuk mata pelajaran tertentu saja.
2.      Bagi siswa yang pasif dapat mengambil jawabandari temannya.

Semoga postingan mengenai "Model Pembelajaran Concept Sentence" ini bermanfaat ....

Friday, June 21, 2013

MODEL PEMBELAJARAN COMPLETE SENTENCE

Teman-teman, sebentar lagi memasuki tahun ajaran baru. Kita berharap pembelajaran yang akan kita lakukan pada masa yang akan datang lebih bermakna dan bermanfaat bagi peserta didik kita. Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah adalah Bahasa Indonesia. Beberapa guru ada yang kurang menyukai mata pelajaran Bahasa Indonesia. Namun, bagi guru kelas di Sekolah Dasar meskipun ia tidak menyukai mata pelajaran Bahasa Indonesia ia tetap harus mengajarkannya kepada peserta didik. Bagi guru yang menyenangi mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak akan menjadi masalah, karena guru tersebut pasti sudah mempunyai banyak  cara agar pembelajaran menjadi menyenangkan. Sekarang saya akan membagikan Model pembelajaran complete sentence bagi guru yang kurang menyukai mata pelajaran Bahasa Indonesia. Karena model ini dapat dengan mudah kita terapkan. Untuk lebih jelasnya baca artikel di bawah ini ya....



Model pembelajaran complete sentence adalah model pembelajaran mudah dan sederhana di mana siswa belajar melengkapi paragraf yang belum sempurna dengan menggunakan kunci jawaban yang tersedia.

Langkah-langkah / Sintaks Model pembelajaran complete sentence, yaitu:
1.      Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2.      Guru Menyampaikan materi secukupnya atau siswa disuruh membacakan buku atau modul dengan waktu secukupnya.
3.      Guru membentuk kelompok 2 atau 3 orang secara heterogen.
4.      Guru membagikan lembar kerja berupa paragraf yang kalimatnya belum lengkap.
5.      Siswa berdiskusi untuk melengkapi kalimat yang belum lengkap
6.      Siswa berdiskusi secara berkelompok.
7.      Presentasi.
8.      Jawaban yang salah diperbaiki.

9.      Kesimpulan

Model pembelajaran complete sentence mempunyai kelebihan / keunggulan, diantaranya:
v Meningkatkan kerjasama siswa dalam kelompok

v Siswa dilatih untuk berani dan percaya diri karena harus tampil mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.

Model pembelajaran complete sentence mempunyai kelemahan / kekurangan antara lain:
v Sedikit membosankan, karena dalam proses pembelajaran hanya di isi dengan kerja kelompok dan diskusi.

v Tidak bisa melihat kemampuan tiap-tiap siswa karena mereka bekerja dalam kelompok.

Semoga postingan mengenai "Model pembelajaran complete sentence" ini dapat bermanfaat....

Sunday, June 16, 2013

MODEL PEMBELAJARAN DEBATE

Teman-teman, apa kabarnya nih? Sekarang di televisi sering kita melihat tentang debat sebelum pemilihan kepala daerah. Ternyata debat tidak hanya untuk pemilihan kepala daerah, tetapi dapat kita gunakan sebagai model pembelajaran. Agar pembelejaran kita menjadi lebih menyenangkan dan bermakna bagi peserta didik kita. untuk lebih jelasnya mengenai model pembelajaran debate, dapat teman-teman baca di bawah ini, ya...

Model pembelajaran debate merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam dua kelompok yang duduknya berhadapan, satu kelompok  mengambil posisi pro dan satu kelompok  lainnya dalam posisi kontra. Selanjutnya antara kelompok pro dan kontra saling melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan / diberikan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diutarakan sesuai pendapat masing-masing kelompok dengan dibimbing oleh guru yang akhirnya dapat ditarik suatu kesimpulan. kemudian guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.



Pada dasarnya, model pembelajaran debate ini merupakan  pembelajaran kooperatif, dimana harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Keterampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.  

Dalam model pembelajaran debate siswa juga dilatih bagaimana mengeluarkan pendapat seperti dalam model pembelajaran Think Pair and Share, perbedaannya adalah dalam model pembelajaran debate situasi pembelajaran disengaja dibuat 2 kelompok yang berseberangan (pro dan kontra). Siswa dilatih mengutarakan pendapat/pemikirannya dan bagaimana mempertahankan pendapatnya dengan alasan-alasan  yang logis dan dapat dipertanggung jawabkan. Bukan berarti siswa diajak saling bermusuhan, melainkan siswa belajar bagaimana menghargai adanya perbedaan.

Sintaks / langkah-langkah model pembelajaran debate adalah sebagai berikut  :
  1. Guru membagi siswa menjadi 2 kelompok peserta debat, yang satu pro dan yang lainnya kontra dengan duduk berhadapan antar kelompok.
  2. Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan diperdebatkan oleh kedua kelompok diatas.
  3. Setelah selesai membaca materi, Guru menunjuk salah satu anggota kelompok pro untuk berbicara saat itu, kemudian setelah selesai ditanggapi oleh kelompok kontra. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya.
  4. Inti/ide-ide dari setiap pendapat atau pembicaraan di tulis di papan pendapat sampai mendapatkan sejumlah ide yang diharapkan.
  5. Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkapkan.
  6. Dari data-data yang diungkapkan tersebut, guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai.
v Kelebihan / Keunggulan Model Pembelajaran Debate
a.    Memacu siswa aktif dalam pembelajaran
b.    Meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi secara baik
c.    Melatih siswa untuk mengungkapkan pendapat disertai alasannya
d.   Mengajarkan siswa cara menghargai pendapat orang lain
e.    Tidak membutuhkan banyak media

v Kekurangan / Kelemahan Model Pembelajaran Debate
a.    Tidak bisa digunakan untuk semua mata pelajaran (mata pelajaran tertentu saja)
b.    Pembelajaran kurang menarik (cukup monoton) karena hanya adu pendapat dan menggunakan banyak media
c.     Membutuhkan waktu yang cukup lama, karena siswa harus memahami materi terlebih dahulu sebelum melakukan debat
d.  Siswa menjadi takut dan tertekan karena harus bisa berkomunikasi secara langsung untuk mengungkapkan pendapatnya

Semoga postingan mengenai model pembelajaran debate ini dapat bermanfaat bagi teman-teman....

Wednesday, June 12, 2013

MODEL PEMBELAJARAN DOUBLE LOOP PROBLEM SOLVING (DLPS)

Teman-teman, sekarang proses belajar mengajar dituntut untuk lebih bermakna bagi peserta didik. Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita sebagai pendidik untuk menguasai berbagai strategi dalam memberikan materi kepada peserta didik yang kita sayangi. Kali ini, saya akan berbagi tentang Model Pembelajaran Double Loop Problem Solving (DPLS).


Model Pembelajaran Double Loop Problem Solving (DPLS) adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama dari timbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Selanjutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan apa yang menyebabkan munculnya masalah tersebut.


Sintak Model Pembelajaran Double Loop Problem Solving (DPLS) adalah:
  1. identifkasi,
  2. deteksi kausal
  3. solusi tentative,
  4. pertimbangan solusi,
  5. analisis kausal,
  6. deteksi kausal lain, dan rencana solusi yang terpilih.

 Langkah penyelesaian masalah dalam Model Pembelajaran Double Loop Problem Solving (DPLS) sebagai berikut:
1)      menuliskan pernyataan masalah awal,
2)      mengelompokkan gejala,
3)      menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi,
4)      mengidentifikasui kausal,
5)      imoplementasi solusi,
6)      identifikasi kausal utama,
7)      menemukan pilihan solusi utama, dan
8)      implementasi solusi utama.
 Adapun kelebihan/keunggulan Model Pembelajaran Double Loop Problem Solving (DPLS) antara lain:
  1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
  2. Berpikir dan bertindak kreatif.
  3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
  4. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
  5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
  6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
  7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
 Kelemahan Model Pembelajaran Double Loop Problem Solving (DPLS) antara lain:      

  • Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain. 


Semoga postingan tentang Model Pembelajaran Double Loop Problem Solving (DPLS)  ini bermanfaat.... :)


Sumber Bacaan:




Saturday, May 11, 2013

MODEL PEMBELAJARAN PAIR CHECK






Sekarang guru dituntut untuk meningkatkan kinerja dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh sebab itu, guru harus mempunyai banyak pengetahuan mengenai model pembelajaran. Ini dimaksudkan agar guru mampu menjadikan pembelajaran menjadi bermakna dan berkualitas bagi peserta didik. Sekarang saya akan berbgai tentang  model pembelajaran pair check. Untuk penjelasan selengkapnya mengenai  model pembelajaran pair check dapat teman-teman baca di bawah ini...



Pengertian  model pembelajaran pair check

Model Pembelajaran Pair check (pasangan mengecek) adalah model pembelajaran berkelompok atau berpasangan yang dipopulerkan oleh Spencer Kagen tahun 1993.  Model ini menerapkan pembelajaran berkelompok yang menuntut kemandirian dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan persoalan yang diberikan.

Langkah-langkah / Sintaks dari model pembelajaran pair check

  1. Guru menjelaskan  konsep
  2. Siswa dibagi beberapa tim. Setiap tim terdiri dari 4 orang. Dalam satu ti ada 2 pasangan. Setiap pasangan dalam satu tim ada yang menjadi pelatih dan ada yang patner.
  3. Guru membagikan soal kepada si patner
  4. Patner menjawab soal  , dan si pelatih bertugas mengecek jawabannya. Setiap soal yang benar pelatih memberi kupon.
  5. Bertukar peran. Si pelatih menjadi patner dan si patner menjadi pelatih
  6. Guru membagikan soal kepada si patner
  7. Patner menjawab soal  , dan si pelatih bertugas mengecek jawabannya. Setiap soal yang benar pelatih memberi kupon.
  8. Setiap pasangan kembali ke tim awal dan mencocokkan jawaban satu sama lain.
  9. Guru membimbing dan memberikan arahan atas jawaaban dari berbagai soal dan tim mengecek jawabannya.
  10. Tim yang paling banyak mendapat kupon diberi hadiah


Kelebihan  model pembelajaran pair check

  • Dipandu belajar  melalui bantuan rekan 
  • Menciptakan saling kerjasama di antara siswa 
  • Meningkatkan pemahaman konsep dan / atau proses melatih berkomunikasi
Kekurangan atau kelemahan model pembelajaran pair check
  • memerlukan banyak waktu
  • memerlukan pemahaman yang tinggi terhadap konsep untuk menjadi pelatih.
Semoga artikel tentang  model pembelajaran pair check dapat bermanfaat....




Thursday, April 25, 2013

MODEL PEMBELAJARAN CORE (CONNECTING, ORGANIZING, REFLECTING, EXTENDING)






Pembelajaran akan menyenangkan jika guru bervariasi dalam menyampaikan materi ajar. Oleh sebab itu, sekarang saya akan berbagi tentang salah satu cara penyampaian materi ajar yaitu dengan menggunakan model CORE. Selengkapnya dapat dibaca di bawah ini...

Pengertian Model Pembelajaran CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending)


Model pembelajaran core yaitu model pembelajaran yang mencakup empat aspek kegiatan yaitu connecting, organizing, reflecting, dan extending. Adapun keempat aspek tersebut adalah:
a.         Connecting (C)
Merupakan kegiatan mengoneksikan informasi lama dan informasi baru dan antar konsep.
b.         Organizing (O)
Merupakan kegiatan mengorganisasikan ide-ide untuk memahami materi
c.         Reflecting (R)
Merupakan kegiatan memikirkan kembali, mendalami, dan menggali informasi yang sudah didapat
d.        Extending (E)
Merupakan kegiatan untuk mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan menemukan.

Karakteristik Model Pembelajaran CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending)
Model pembelajaran Core merupakan model pembelajaran yang menekankan kemampuan berpikir siswa untuk menghubungkan, mengorganisasikan, mendalami, mengelola, dan mengembangkan informasi yang didapat. Dalam model ini aktivitas berpikir sangat ditekankan kepada siswa. Siswa dituntut untuk dapat berpikir kritis terhadap informasi yang didapatnya.
Kegiatan mengoneksikan konsep lama-baru siswa dilatih untuk mengingat informasi lama dan menggunakan informasi/konsep lama tersebut untuk digunakan dalam informasi/konsep baru
Kegiatan mengorganisasikan ide-ide, dapat melatih kemampuan siswa untuk mengorganisasikan, mengelola informasi yang telah dimilikinya..
Kegiatan refleksi, merupakan kegiatan memperdalam, menggali informasi untuk memperkuat konsep yang telah dimilikinya.
Extending, dengan kegiatan ini siswa dilatih untuk mengembangkan, memperluas informasi yang sudah didapatnya dan menggunakan informasi dan dapat menemukan konsep dan informasi baru yang bermanfaat.


Keunggulan Model Pembelajaran CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending)

  • Siswa aktif dalam belajar
  • Melatih daya ingat siswa tentang suatu konsep/informasi
  • Melatih daya pikir kritis siswa terhadap suatu masalah
  • Memberikan pengalaman belajar kepada siswa,karena siswa banyak berperan aktif dalam pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi bermakna.
Kelemahan Model Pembelajaran CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending)
  • Membutuhkan persiapan matang dari guru untuk menggunakan model ini
  • Menuntut siswa untuk terus berpikir kritis
  • Memerlukan banyak waktu
  • Tidak semua materi pelajaran dapat menggunakan model core

Semoga postingan tentang  Model Pembelajaran CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending) dapat bermanfaat....




Friday, April 12, 2013

MODEL PEMBELAJARAN MEA ( Means Ends Analisys )







Pembelajaran akan sangat membosankan jika kita tidak melakukan variasi dalam pelaksanaannya. Sekarang saya akan berbagi tentang model  MEA (Means Ends Analisys). Semoga model  MEA (Means Ends Analisys) ini dapat menjadi salah satu pilihan bagi teman-teman dalam proses belajar mengajar.



MEA (Means Ends Analisys) adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic, elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana, identifikasi perbedaan, susun sub-sub masalah sehingga terjadi koneksivitas, pilih strategi solusi

Kelebihan model MEA (Means Ends Analisys) adalah :
  1. Melatih siswa untuk mengelaborasi setiap kejadian
  2. Berpikir dan bertindak kreatif.
  3. Memecahkan masalah yang dihadapi dengan sikap kritis
  4. Mengidentifikasi dan melakukan pengamatan
  5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
  6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tanggap.
  7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
Kelemahan model pembelajaran MEA (Means Ends Analisys) sebagai berikut.       
  1. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.
  2. Tidak semua mata pelajaran dapat menggunakan model MEA
  3. Perlu penguasaan materi oleh guru yang menerapkan model pembelajaran ini.
Semoga postingan mengenai Model MEA (Means Ends Analisys) dapat bermanfaat...



Thursday, April 11, 2013

Model Kepala Bernomor Struktur (Modifikasi dari Number Heads)








Teman-teman, apa kabar? Sekarang saya ingin berbagi tentang Model kepala bernomor struktur. Semoga penjelasan tentang Model kepala bernomor struktur dapat bermanfaat dalam pengembangan pembelajaran dalam rangka mendapatkan pembelajaran yang bermakna.



Model kepala Bernomor Struktur adalah suatu metode belajar dimana siswa dikelompokkan dengan diberi nomor. Setiap nomor mendapat tugas berbeda dan nantinya dapat bergabung dengan kelompok lain yang bernomor sama untuk bekerjasama. Model kepala bernomor struktur adalah Modifikasi dari Number Heads.

Sintak dari Model Kepala Bernomor Struktur (Modifikasi dari Number Heads), yaitu :
  1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
  2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas yang berangkai. Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya
  3.  Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
  4. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
  5. Guru bersama siswa menyimpulkan pelajaran. 
Kelebihan Model Kepala Bernomor Struktur , yaitu    :
  1. Setiap siswa menjadi siap semua.
  2. Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
  3. Dapat bertukar pikiran dengan siswa yang lain.
Kelemahan Model Kepala Bernomor Struktur , yaitu  :
  1. Guru tidak mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
  2. Waktuyang dibutuhkan banyak
Semoga postingan tentang Model kepala bernomor struktur dapat bermanfaat....