Friday, February 8, 2013

MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF








Teman-teman, pembelajaran memang akan sangat membosankan jika kita kurang bisa memvariasikan cara mengajar kita. Sekarang saya akan berbagi tentang menambah pengetahuan teman-teman tentang model pembelajaran generatif. Semoga bermanfaat....

Pengertian Model Pembelajaran Generatif

Model Pembelajaran Generatif  (PG) merupakan terjemahan dari Generative Learning (GL). Menurut Osborno dan Wittrock dalam Katu (1995.b:1), model pembelajaran generatif merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pada pengintegrasian secara aktif pengetahuan baru dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya. Pengetahuan baru itu akan diuji dengan cara menggunakannya dalam menjawab persoalan atau gejala yang terkait. Jika pengetahuan baru itu berhasil menjawab permasalahan yang dihadapi, maka pengetahuan baru itu akan disimpan dalam memori.



Landasan Teoritik dan Empirik Model Pembelajaran Generatif

Model Pembelajaran generatif memiliki landasan teoritik yang berakar pada teori-teori belajar konstruktivis mengenai belajar dan pembelajaran. Butir-butir penting dari pandangan belajar menurut teori konstruktivis ini menurut Nur (2000:2-15) dan Katu (1995.a: 1-2),
a.       Menekankan bahwa perubahan kognitif hanya bisa terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memahami inforamasi-informasi baru.
b.      Seseorang belajar jika dia bekerja dalam zona perkembangan terdekat, yaitu daerah perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangannya saat ini. Seseorang belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona tersebut. Seseorang bekerja pada zona perkembangan terdekatnya jika mereka terlibat dalam tugas yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri, tetapi dapat menyelesaikannya jika dibantu sedikit dari teman sebaya atau orang dewasa.
c.       Penekanan pada prinsip Scaffolding, yaitu pemberian dukungan tahap demi tahap untuk belajar dan pemecahan masalah. Dukungan itu sifatnya lebih terstruktur pada tahap awal, dan kemudian secara bertahap mengalihkan tanggung jawab belajar tersebut kepada mahasiswa untuk bekerja atas arahan dari mereka sendiri. Jadi, mahasiswa sebaiknya lansung saja diberikan tugas kompleks, sulit, dan realistik kemudian dibantu menyelesaikan tugas kompleks tersebut dengan menerapkan scaffolding.
d.      Lebih menekankan pada pengajaran top-down daripada bottom-up. Top-down berarti mahasiswa langsung mulai dari masalah-masalah kompleks, utuh, dan autentik untuk dipecahkan. Dalam proses pemecahan masalah tersebut, mahasiswa mempelajari keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan untuk memecahkan masalah kompleks tadi dengan bantuan guru/dosen atau teman sebaya yang lebih mampu.
e.      Menganut asumsi sentral bahwa belajar itu ditemukan. Meskipun jika kita menyampaikan informasi kepada mahasiswa, tetapi mereka harus melakukan operasi mental atau kerja otak atas informasi tersebut untuk membuat informasi itu masuk ke dalam pemahaman mereka.

Tahap atau Sintaks ModelPembelajaran Generatif

Model Pembelajaran Generatif (generatif learning model) pertamakali diperkenalkan oleh Osborn dan Cosgrove (dalam Sutarman dan Swasono 2003). Pembelajaran Generatif terdiri dari empat tahap yaitu :
a.          Eksplorasi (Pendahuluan)
Tahap pertama yaitu tahap pendahuluan. Pada tahap ini guru membimbing siswa untuk melakukan eksplorasi terhadap pengetahuan, ide, atau konsepsi awal yang diperoleh dari pengalaman sehari-harinya atau diperoleh dari pembelajaran pada tingkat kelas sebelumnya. Untuk mendorong siswa agar mampu untuk melakukan eksplorasi, guru dapat memberikan stimulus berupa beberapa aktivitas / tugas-tugas seperti melalui demonstrasi / penelusuran terhadap suatu permasalahan yang dapat menunjukan data dan fakta yang terkait dengan konsepsi yang akan dipelajari.
b.         Pemfokusan
Tahap kedua yaitu tahap pemfokusan atau pengenalan konsep atau intervensi. Pada tahap pemfokusan siswa melakukan tugas-tugas pembelajaran yang disusun/dibuat oleh guru hendaknya tidak seratus persen merupakan petunjuk langkah-langkah kerja, tetapi tugas-tugas haruslah memberikan kemungkinan siswa beraktivitas sesuai caranya sendiri atau cara yang diinginkannya.
Penyelesaian tugas-tugas dilakukan secara kelompok yang terdiri atas 2 sampai 4 orang siswa sehingga siswa dapat berlatih untuk meningkatkan sikap seperti seorang ilmuwan. Misalnya, pada aspek kerja sama dengan sesama teman sejawat, membantu dalam kerja kelompok, menghargai pendapat teman, tukar pengalaman (sharing idea), dan keberanian bertanya.
c.          Tantangan atau tahap Pengenalan Konsep
Tahap ketiga yaitu tahap tantangan atau disebut juga tahap pengenalan konsep. Setelah siswa memperoleh data selanjutnya menyimpulkan dan menulis dalam lembar kerja. Para siswa diminta mempresentasikan temuannya melalui diskusi kelas. Melalui diskusi kelas akan terjadi proses tukar pengalaman diantara siswa.
Dalam tahap ini, siswa berlatih untuk berani mengeluarkan ide, kritik, berdebat, menghargai pendapat teman dan menghargai adanya perbedaan diantara pendapat teman. Pada saat diskusi, guru berperan sebagai moderator dan fasilitator agar jalannya diskusi dapat terarah. Diharapkan pada akhir diskusi siswa memperoleh pemantapan konsep yang benar.
d.         Penerapan Konsep
Tahap keempat adalah tahap penerapan. Pada tahap ini, siswa diajak untuk dapat memecahkan masalah dengan menggunakan konsep barunya atau konsep benar dalam situasi baru yang berkaitan dengan hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari. Pemberian tugas rumah yang dikerjakan siswa di luar jam pertemuan merupakan bentuk penerapan yang baik untuk dilakukan (Sutarman dan Swasono, 2003). Pada tahap ini siswa diberi banyak latihan-latihan soal, siswa akan semakin memahami konsep (isi pembelajaran) secara lebih mendalam dan bermakna. Pada akhirnya konsep yang dipelajari siswa akan masuk ke memory jangka panjang; ini berarti tingkat retensi siswa semakin baik

Kelebihan Model Pembelajaran Generatif (PG)
a.       Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pikiran/pendapat/ pemahamannya terhadap konsep matematika.
b.      Melatih siswa untuk mengkomunikasikan konsep matematika.
c.       Melatih siswa untuk menghargai gagasan orang lain.
d.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk perduli terhadap konsepsi awalnya (terutama siswa yang miskonsepsi), siswa diharapkan menyadari miskonsepsi yang terjadi dalam pikirannya dan bersedia memperbaiki miskonsepsi tersebut.
e.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.
f.        Dapat menciptakan suasana kelas yang aktif karena siswa dapat membandingkan gagasannya dengan gagasan siswa lainnya serta intervensi guru.
g.       Guru mengajar menjadi kreatif dalam mengarahkan siswanya untuk mengkonstruksi konsep yang akan dipelajari.
h.      Guru menjadi terampil dalam memahami pandangan siswa, dan mengorganisasi pembelajaran.

Kekurangan/kelemahan Model Pembelajaran Generatif (PG)
a.       Siswa yang pasif merasa diteror untuk mengkonstruksi konsep.
b.      Membutuhkan waktu yang lama.
c.       Bagi guru yang tidak berpengalaman akan merasa kesulitan untuk mengorganisasi pembelajaran.

Semoga postingan tentang Model Pembelajaran Generatif (PG) bermanfaat untuk teman-teman... Aamiin....


No comments:

Post a Comment